Sauerkraut
Sauerkraut
merupakan kubis asam yang biasa dikonsumsi di Amerika Selatan, Eropa Tengah dan
Eropa Selatan. Konsumsi sauerkraut di Indonesia masih tergolong rendah, membuat salah satu makanan fermentasi dari Jerman ini
masih terdengar asing untuk masyarakat Indonesia. Sayuran yang diolah dengan
fermentasi memiliki berbagai sebutan seperti di Korea disebut dengan “kimchi”, di Jepang disebut “tsukemono”, di Eropa disebut “Sauerkraut”.
Sauerkraut sering
disebut sebagai kubis asam dan asinan kubis karena pembuatannya menggunakan
garam. Beberapa penelitian menghasilkan
Bakteri Asam Laktat dari kubis segar yang difermentasikan menggunakan garam
dengan konsentrasi tertentu atau sering disebut sauerkraut. Bakteri yang mungkin tumbuh pada Sauerkraut kubis adalah Lactobacillus
plantarum.
Proses pembuatan alternatif kultur alami untuk memproduksi yoghurt digunakanlah bahan utama yaitu kubis. Sauerkraut yang difermentasi selama dua hari dapat dihasilkan Exopolysaccharides (EPS) dan dapat dijadikan sebagai starter yoghurt dengan efek pengentalan secara alami. EPS merupakan biopolimer alami yang diproduksi oleh Bakteri Asam Laktat (BAL) yang diakui dapat menjadi alternatif alami.
Leuconostoc mesentorides berperan pada awal fermentasi sauerkraut kemudian dilanjutkan oleh Lactobacillus brevis dan Lactobacillus plantarum. Streptococcus faecalis dan Pediococcus cerevisiae juga memegang peran ketika temperature dan kadar garam sauerkraut tinggi.
Konsentrasi garam kurang dari 1% dapat
menguntungkan bakteri heterofermentatif. Garam
berfungsi menarik nutrisi yang berada dalam kubis hingga keluar berupa cairan
dan akan segera dimanfaatkan oleh BAL. Garam digunakan untuk menarik nutrisi dan air
dalam kubis dan dapat dijadikan sebagai substrat pertumbuhan BAL garam juga
dapat menghambat bakteri pathogen. Laju pertumbuhan mikroorganisme pada sauerkraut dapat terhambat karena kadar
garam yang tinggi maka juga berpengaruh terhadap turunnya kandungan asam
laktat.
Kadar garam yang semakin tinggi menyebabkan turunnya kadar asam laktat karena garam secara selektif memiliki kemampuan menghambat laju pertumbuhan mikroorganisme. Pembuatan sauerkraut diawali dengan sortasi, penambahan garam, peremasan dan proses fermentasi dalam wadah tertutup. Membuat fermentasi kubis dengan cara basah menggunakan larutan garam sebesar 15% yang difermentasi pada suhu ruang selama 7 hari dalam keadaan tutup rapat. Garam non yodium dapat ditambahkan dalam pembuatan sauerkraut.
Pengaturan suhu yang digunakan, konsentrasi garam, dan kebersihan lingkungan merupakan faktor penting dalam pembuatan sauerkraut. Mutu Sauerkraut akan menurun atau rusak apabila pada sauerkraut ditemui perubahan warna hingga jingga karena aktivitas pertumbuhan khamir didalamnya dan menghasilkan aroma busuk.
Komentar
Posting Komentar